proposal dana kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm) bersubsidi tak layak untuk disetujui dpr ri sebab sederat alasan.
selain sebab sejumlah web di proposal tersebut sudah terakomodasi dalam apbn 2013, ada potensi penyalahgunaan untuk kepentingan politik menuju tahun pemilu 2014, papar anggota dpr ri dari fraksi golkar, bambang soesatyo di jakarta, minggu.
anggota komisi iii dpr ri dan menilai, alasan lainnya, pemerintah belum mampu membuatkan bbm bersubsidi, sebab angka yang diselundupkan terbilang amat sulit volumenya.
karena itu, proposal dana kompensasi dan mau dimasukan dalam apbn-p 2013 tidak memenuhi persyaratan supaya diterima, kata dia.
Informasi Lainnya:
- Bagaiman promosi melalui iklan
- Tips Membeli Rumah
- Solusi Terapi Alternatif
- Memilih Properi Untuk Investasi
dalam proposal dana kompensasi tersebut, ada program yang sama dan serupa dengan bantuan langsung tunai (blt) kepada penduduk miskin.
kekuatan-kekuatan politik pada dpr ri pasti saja akan belajar dari pengalaman menjelang pemilu 2009. ketika tersebut, blt sebagai kuda tunggangan partai penguasa supaya meraih simpati pemilih. hal serupa tak mungkin berulang dalam pemilu 2014, ujarnya.
kompensasi lain seperti beras supaya penduduk miskin (raskin) serta santunan kepada siswa miskin juga program keluarga harapan telah terakomodasi selama apbn tahun berjalan.
alasan lain agar menolak proposal tersebut merupakan fakta bahwa pemerintah belum efektif membuatkan bbm bersubsidi, sebab persentase yang dicuri ataupun diselundupkan baru terbilang tinggi. kelanggkaan bbm ketika ini lebih disebabkan pencurian dan penyelundupan dengan oknum aparat negara. artinya, pemerintah belum all out memerangi penyelundupan bbm bersubsidi, imbuhnya.
perkiraan kiranya 30 persen bbm bersubsidi diselundupkan atau tak tidak keliru sasaran telah dibenarkan oleh pemerintah sendiri. tapi, respons pemerintah atas masalah ini sangat minimalis.
dengan itulah, terpenuhilah syarat agar menolak proposal dana kompensasi kenaikan harga bbm bersubsidi itu, kata bambang soesatyo.